Lifestyle People – Pernah nggak sih kamu merasa capek sendiri karena susah banget nolak permintaan orang lain? Itu namanya people pleasing, kebiasaan ingin disukai semua orang sampai kadang lupa sama kebutuhan diri sendiri. Awalnya mungkin terasa baik karena semua senang sama kamu, tapi lama-lama rasanya seperti lagi lari maraton tanpa istirahat. Kamu terus memberi, tapi jarang menerima balik yang seimbang.
Banyak dari kita yang tanpa sadar terjebak di pola ini, apalagi kalau dari kecil sering dipuji saat nurut atau membantu orang lain. Rasanya aman kalau semua orang nyaman sama kita, kan? Tapi di balik itu, ada harga yang harus dibayar: waktu, energi, bahkan mood kamu sendiri sering terkuras. Kalau kamu lagi merasa sering kelelahan meski nggak banyak kerjaan berat, mungkin ini salah satu penyebabnya.
Yuk kita ngobrol lebih dalam soal people pleasing ini. Aku mau ceritain kenapa kebiasaan ini muncul, dampaknya seperti apa, dan yang paling penting, gimana cara pelan-pelan lepas dari pola ini tanpa merasa bersalah. Siapa tahu setelah baca ini, kamu jadi lebih ringan menjalani hari-hari.
Kenapa Sih People Pleasing Ini Terasa Nyaman, Tapi Sebenarnya Melelahkan?

People pleasing sering dimulai dari keinginan yang tulus untuk membuat orang lain bahagia. Kamu merasa senang kalau teman bilang terima kasih, atau atasan puas sama kerjaanmu yang lembur. Rasanya seperti dapat validasi bahwa kamu orang baik dan berharga. Tapi lama-lama, ini jadi pola otomatis: setiap ada permintaan, langsung bilang iya tanpa mikir apakah kamu benar-benar mau atau punya waktu.
Salah satu alasan besar adalah takut konflik. Kamu khawatir kalau nolak, orang lain bakal marah, kecewa, atau bahkan menjauh. Jadi lebih aman bilang iya daripada menghadapi kemungkinan orang nggak suka sama kamu. Ini wajar kok, karena kita semua butuh rasa diterima di lingkungan sosial. Tapi kalau terus-terusan, kamu jadi lupa bahwa menolak bukan berarti jahat, melainkan cara menjaga batasan diri sendiri.
Dampaknya ke diri sendiri sering nggak langsung terasa. Awalnya cuma capek sedikit, tapi lama-lama bisa jadi resentment—kesal diam-diam ke orang yang kamu bantu. Kamu merasa nggak dihargai karena selalu memberi tanpa diminta balik. Belum lagi kalau kebutuhanmu sendiri terabaikan: istirahat kurang, hobi ditinggalin, atau bahkan kesehatan mental mulai goyah karena stres menumpuk.
Yang menarik, people pleasing juga bisa memengaruhi hubunganmu dengan orang lain. Orang-orang di sekitarmu jadi terbiasa kamu selalu available, jadi saat suatu hari kamu nolak, mereka kaget atau bahkan marah. Padahal, hubungan yang sehat justru butuh keseimbangan memberi dan menerima, bukan satu pihak yang selalu mengalah.
Gimana Cara Mulai Mengurangi Kebiasaan People Pleasing Tanpa Rasa Bersalah?
Mulai mengurangi people pleasing nggak harus drastis. Kamu bisa mulai dari hal kecil yang terasa aman. Misalnya, saat ada permintaan yang sebenarnya kamu nggak mau, coba bilang, “Boleh aku pikir dulu ya?” Ini memberi waktu buat kamu mengecek perasaan sendiri: apakah ini benar-benar aku mau, atau cuma karena takut mengecewakan?
Latihan menolak dengan lembut juga penting. Kamu bisa pakai kalimat seperti, “Maaf ya, kali ini aku nggak bisa bantu karena lagi ada deadline lain.” Atau, “Aku senang kamu ajak, tapi weekend ini aku butuh istirahat.” Kata-kata ini menunjukkan kamu menghargai mereka, tapi juga menghargai diri sendiri. Awalnya mungkin terasa aneh dan jantungan, tapi lama-lama jadi lebih natural.
Kenali juga trigger kamu. Perhatikan saat-saat kamu paling susah nolak—mungkin sama atasan, teman dekat, atau keluarga. Kalau sudah tahu polanya, kamu bisa persiapkan respon lebih dulu. Misalnya, buat skrip sederhana di kepala untuk situasi tertentu. Ini membantu mengurangi rasa panik saat permintaan datang mendadak.
Yang nggak kalah penting adalah latihan self-compassion. Setiap kali kamu berhasil menolak atau menunda jawaban, beri apresiasi ke diri sendiri. Bilang dalam hati, “Aku bangga sama diriku karena sudah jaga batasan hari ini.” Ini membantu mengurangi rasa bersalah yang biasanya muncul setelah menolak.
Apa Saja Tanda-Tanda People Pleasing yang Perlu Kamu Waspadai?
Ada beberapa tanda yang bisa kamu cek untuk tahu apakah kamu sedang terjebak people pleasing. Misalnya, kamu sering merasa capek setelah bertemu orang banyak, padahal cuma ngobrol biasa. Atau, kamu susah bilang nggak meski jadwal sudah penuh. Kalau sering merasa, “Nggak enak kalau nolak,” itu salah satu red flag.
Tanda lain adalah sulit mengenali keinginan sendiri. Saat ditanya mau makan apa atau mau nonton film apa, kamu cenderung bilang, “Terserah kamu aja.” Bukan karena fleksibel, tapi karena takut pilihanmu nggak disukai orang lain. Lama-lama, ini bisa bikin kamu merasa kehilangan identitas sendiri.
Kamu juga mungkin sering meminta maaf berlebihan, bahkan untuk hal yang bukan salahmu. Atau, merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain—kalau mereka sedih, kamu merasa harus memperbaiki suasana hati mereka. Ini semua bagian dari pola people pleasing yang kalau dibiarkan bisa bikin kamu burnout.
Perhatikan juga kalau kamu jarang minta tolong. Kamu terbiasa memberi, tapi susah menerima bantuan karena takut merepotkan. Padahal, hubungan yang seimbang justru saling bantu. Kalau kamu selalu di posisi pemberi, lama-lama energi kamu habis tanpa diisi ulang.
Hal-Hal yang Sebaiknya Dihindari Saat Proses Lepas dari People Pleasing!
Saat mulai mengubah kebiasaan ini, hindari langsung jadi super tegas sampai terkesan kasar. Perubahan yang ekstrem malah bisa bikin kamu balik lagi ke pola lama karena merasa bersalah berlebih. Lebih baik pelan-pelan tapi konsisten.
Jangan juga membandingkan diri dengan orang yang sudah jago menetapkan batasan. Setiap orang punya tempo sendiri, dan yang penting adalah progresmu, bukan kesempurnaan. Kalau suatu hari kamu masih bilang iya padahal sebenarnya nggak mau, nggak apa-apa—besok coba lagi.
Hindari menyalahkan diri sendiri terlalu keras. People pleasing sering berakar dari pengalaman masa kecil atau lingkungan yang membuatmu belajar bahwa disukai itu penting banget. Jadi, ini bukan karakter buruk, melainkan pola yang bisa diubah dengan sabar.
Jangan lupa jaga lingkungan yang suportif. Ceritakan ke teman atau pasangan bahwa kamu sedang belajar menetapkan batasan. Kalau mereka orang yang peduli, mereka akan menghargai usahamu, bukan malah menjauh.
Tips Tambahan untuk Hidup Lebih Bebas dari People Pleasing
Coba luangkan waktu rutin untuk check-in sama diri sendiri. Setiap malam, tanya: hari ini aku sudah lakukan apa yang benar-benar aku mau? Ini membantu kamu lebih kenal kebutuhan sendiri. Mulai dari hal kecil seperti pilih menu makan malam sesuai selera, bukan ikut orang lain.
Bangun kebiasaan self-care yang nggak bisa diganggu. Misalnya, blok waktu di kalender untuk olahraga atau baca buku, dan anggap itu janji sama diri sendiri yang nggak boleh dibatalkan demi orang lain. Ini melatih kamu menghargai waktu pribadi.
Kalau perlu, baca buku atau dengar podcast soal boundaries. Banyak cerita orang lain yang bisa bikin kamu merasa nggak sendirian. Atau, kalau terasa berat banget, konsultasi sama psikolog juga pilihan bijak—bukan tanda lemah, tapi tanda kamu peduli sama kesehatan mental.
Yang paling menyenangkan adalah saat kamu mulai merasakan kebebasan itu. Energi lebih banyak, mood lebih stabil, dan hubungan jadi lebih autentik karena orang menyukaimu apa adanya, bukan karena kamu selalu nurut.
Lepas dari people pleasing adalah bentuk kasih sayang terbesar yang bisa kamu beri ke diri sendiri. Kamu layak punya waktu, energi, dan ruang untuk kebutuhanmu sendiri, sama seperti kamu beri ke orang lain. Perubahan ini mungkin butuh waktu, tapi setiap langkah kecil membawa kamu lebih dekat ke versi dirimu yang lebih bahagia dan tenang.
Sekarang giliran kamu cerita dong! Kamu pernah ngerasain people pleasing ini nggak? Atau sudah mulai coba nolak dengan lembut? Share di komentar ya, aku penasaran banget sama pengalamanmu!
